Novel ini dibuka
dengan mukadimah yang unik. Tere Liye menukil fakta sejarah nusantara di tahun
1938. Salah satunya, Indonesia (yang masih bernama Hindia Belanda) mengikuti
Piala Dunia di Prancis untuk pertama kalinya. Seterusnya, sosok kapal uap yang
akan menjadi saksi seluruh cerita di novel setebal 544 ini mulai digambarkan
penulis. Untuk kemudian, Tere Liye menghadirkan satu persatu tokoh-tokoh dalam
novel ini.
Daeng Andipati adalah penumpang Blitar
Holland yang mengikutsertakan istri, kedua anaknya, serta seorang pembantu.
Sosoknya berkarismatik, terpandang, digambarkan dekat dengan orang-orang
Belanda. Sekilas, kehidupan Daeng Andipati nampak sempurna. Kebahagiaan seolah
meliputinya sepanjang waktu. Istri yang cantik dan salehah, dua anak yang
periang dan menggemaskan, juga karir bisnis yang menjanjikan. Namun ada satu
hal yang tersembunyi di dada Daeng Andipati. Membuat seluruh kehidupan Daeng
Andipati seolah tidak berarti. Adalah kebencian Daeng Andipati terhadap ayahnya.
Mencermati hubungan Daeng Andipati dengan
ayahnya, kita seolah diajak menoleh kenyataan di sekitar kita. Betapa terkadang
kebencian itu bisa lahir dari dua orang yang seharusnya terikat cinta. Ini
adalah hal menarik yang diangkat Tere Liye dalam novel Rindu.
Kabar baiknya, pertanyaan tentang kebencian itu memiliki jawaban yang
mendamaikan. Sehingga siapapun pembaca yang mengalami hal serupa, bisa
mengambil sikap terbaik. Seperti biasa, cara Tere Liye menyisipkan pesan-pesan
pencerahan selalu sederhana, tidak menggurui. Namun tepat sasaran.
Tokoh lain yang menghiasi perjalanan
panjang kapal Blitaar Holland adalah dua kakak beradik, Anna dan Elsa. Dua
kanak-kanak ini memberi kesan dan warna tersendiri dalam novel Rindu.
Saya membayangkan, novel Rindu ini pasti akan
terasa berat tanpa kehadiraan Anna dan Elsa. Sementara Tere Liye, sudah sangat
terampil menggambarkan karakter anak-anak dalam novel-novelnya. Saya sungguh
jatuh cinta dengan Anna dan Elsa. Polos, periang, dan menggemaskan. Tere Liye
memberikan porsi yang banyak untuk cerita mereka. Semakin menegaskan, bahwa
kanak-kanak tidak pernah terlepas dari kehidupan kita. Kehadiran mereka adalah
penghiburan. Dunia pasti terlihat membosankan tanpa sosok mereka. Ini sekaligus
menjadi nilai lebih novel Rindu, ide tentang anak-anak
yang menyertai orang dewasa pergi haji hampir tidak pernah disinggung dalam
cerita manapun.
Hal baru dari novel Rindu
ini adalah kemunculan tokoh ulama. Ini istimewa, karena di novel yang lain,
Tere Liye belum pernah mengambil karakter seorang ulama. Yang ada di benak kita
bila disebut kata ulama, tentu terbayang sosok manusia dengan seluruh
kesempurnaan ilmu dan adab. Begitu juga dengan Ahmad Karaeng, seseorang yang
dipanggil Gurutta itu digambarkan sebagai ulama
yang sempurna. Berilmu. Beradab. Bahkan empat dari lima pertanyaan besar di
novel Rindu terjawab sempurna dari lisannya
yang bijak.
Namun Gurutta bukan ulama
biasa. Ia ulama bersahaja, yang rendah hati, dicintai banyak orang karena
tinggi budinya. Sikapnya terbuka pada siapapun. Mau membaur dengan orang-orang
yang jauh kapasitas keilmuannya. Bahkan Gurutta akrab dengan
orang-orang Belanda di kapal Blitar Holland, duduk satu meja dengan Chef Lars,
berbincang santai dengan Ruben si Boatswain, dan
melibatkan diri pada urusan-urusan penting selama di kapal bersama Kapten
Phillips. Lain dari itu, saya sangat terkesan dengan hubungan Gurutta
dengan Anna dan Elsa. Sesuatu yang jarang kita dapati, ulama besar namun begitu
memuliakan anak-anak, begitu menghargai keberadaan mereka. Menyindir kita yang terkadang
menganggap anak-anak itu merepotkan, menyebalkan, dan stigma negatif lainnya.
Padahal, Rasulullaah sendiri sudah mencontohkan sikap terbaik beliau terhadap
anak-anak.
Dalam novel Rindu, Tere Liye juga
menghadirkan tokoh yang berhasil membuat saya jatuh cinta, sepasang pasutri
sepuh dari Semarang. Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet. Diantara ribuan
penumpang kapal Blitar Holland, merekalah pasangan paling sepuh. Sekaligus
paling romantis.
“Tere Liye seakan berpesan kepada
pembaca—terutama kawula muda, bahwa contoh konkret cinta sejati adalah pasangan
yang sudah berpuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Bukan kawula muda
yang bergaul bebas, tanpa komitmen, dan melanggar begitu banyak rambu-rambu
agama atas nama cinta. Sayangnya, ada hal yang membuat dada sesak dalam
perjalanan cinta mereka. Sesuatu yang kemudian menjadi salah satu pertanyaan
besar dalam novel ini.
Tema cinta juga datang dari tokoh pemuda
bernama Ambo Uleng. Si kelasi pendiam yang suka berdiam diri menatap jendela
bundar di kabin. Meski Tere Liye baru membeberkan dibalik kemisteriusan Ambo
Uleng di halaman 483, sebenarnya pembaca sudah bisa menebak apa yang
sesungguhnya terjadi dengaan pemuda itu.
Banyak sifat baik Ambo Uleng yang bisa
dijadikan teladan. Keinginannya belajar mengaji salah satunya, tidak masalah
meski harus belajar dengan Anna, si gadis kecil yang pernah ia tolong dalam
sebuah peristiwa besar di Surabaya. Kecerdasan dan kecakapan Ambo uleng
menyertai beberapa adegan heroik di novel ini. Namun yang paling berkesan, lima
dari empat pertanyaan besar di novel ini—yang datang dari seseorang yang selalu
memberikan jawaban, justru lahir dari sosok Ambo Uleng.
Tokoh terakhir dari tokoh-tokoh sentral
dalam novel Rindu adalah Bonda Upe. Guru mengaji
anak-anak di kapal Blitar Holland ini membuat saya jatuh simpati. Tere Liye
menggambarkan suasana batin Bonda Upe dengan sempurna. Siapapun yang membaca,
seolah dapat merasakan sesuatu yang terpendam di dada perempuan itu. Sesak,
gelisah, pun saat-saat ia menemukan secercah cahaya yang membuatnya bisa
memandang hidupnya dengan perasaan lapang. Menariknya, Bonda Upe adalah warga
keturunan China dan Muslim. Sesuatu yang mungkin masih menjadi hal yang asing
pada saat itu.
Dalam perjalanannya ke Tanah Suci, Bonda
Upe membawa pertanyaan besar. Berkitan dengan masa lalunya sebagai cabo.
Ada pelajaraan penting yang bisa diambil dari kehidupan Bonda Upe. Salah
satunya adalah nilai ketulusan seorang Enlai, suami Bonda Upe.
Bukan hanya berisi tokoh-tokoh yang
menarik. Novel Rindu, meski hanyalah potret perjalanan
ke Tanah Suci di atas kapal uap milik Belanda, novel ini juga menyajikan
beragam konflik yang tidak pernah terduga. Diantaranya tragedi penyerangan
kapal oleh bajak laut dari Somalia, kapal yang terancam terkatung-katung di
laut lepas, seseorang yang mencoba membunuh Daeng Andipati, serta kasus yang
membuat Gurutta dipenjara di sel kapal Blitar
Holland.
Tere Liye, dalam novel ini, sekaligus
menyinggung beberapa isu, diantaranya seputar toleransi beragama. Dikisahkan
dalam perjalanan dari Kolombo menuju Jeddah, para kelasi mengadakan perayaan
Natal. Sebagaimana yang terjadi di masyarakat tentang polemik Natal bersama dan
mengucapkan selamat Natal. Dalam sebuah dialog antara Daeng Andipati dengan
Anna, Tere Liye menegaskan makna toleransi dari sudut pandang yang lain.
Keberagaman tema dalam novel Rindu
diperkaya dengan sosok dua guru yang hebat dan kreatif. Bapak Mangoenkoesoemo
dan Bapak Soerjaningrat, dua guru terbaik dari Surabaya. Saya—yang berprofesi
sebagai guru, banyak mendapat inspirasi dari potongan-potongan dalam novel yang
mengambarkan kegiataan belajar mengajar anak-anak di kapal Blitar Holland. Saya
yakin, pembaca lain yang juga berprofesi guru, akan mendapat kesan serupa.
Novel Rindu tidak hanya
bercerita tentang perjalanan panjang ke Tanah Suci. Dengan beragam tragedi,
konflik, dan serangkaian peristiwa yang menyertainya. Novel ini semakin
berbobot dengan cuplikan sejarah di beberapa daerah yang dijadikan latar.
Saya seolah-olah bisa merasakan suasana kota Surabaya zaman lampau,
naik trem listriknya. Berjalan-jalan di kota Banten, menyaksikan orang-orang
pribumi berbaur dengan orang Belanda. Termasuk merasakan suasana kota Kolombo,
berkeliling menaiki kereta sapi.
Sesampai di akhir novel—tiba di bagian prolog,
saya anggap sudah tidak ada kejutan dari Tere Liye. Ending beberapa tokoh
nyaris bisa ditebak. Namun lagi-lagi saya terpeleset. Novel ini, meski sekilas
tidak memiliki konflik yang berat, yang menuntut penyelesaian. Rupanya memiliki
bagian yang membuat saya tersentak. Ibarat film, selalu menjadi berkesan jika
memiliki twist. Dan twist
itu ada di novel ke-20 Tere Liye ini.
Akhirnya, novel Rindu
ini menjadi bacaan dengan ide yang baru dan segar. Tema perjalanan haji di
zaman lampau akan menyisakan kesan tersendiri. Selain itu, pembaca nampaknya
akan dibuat jatuh cinta dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Dan yang tak kalah
penting, ada sesuatu pemahaman baru yang terekam. Sesuatu yang hanya bisa
dirasakan oleh hati kita.